AUBL Tunggu Juara Putra Campus League
Sorotan Internasional Menuntut Mental dan Fisik Prima

Juara putra Basketball Campus League Season 1 akan mewakili Indonesia di Asian University Basketball League (AUBL) 2027. Di ajang basketball regional Asia itu, mereka akan bertemu tim-tim kampus terbaik sekawasan.
Itu sebabnya, mereka harus mempersiapkan mental, fisik, hingga kesiapan menghadapi atmosfer kompetisi internasional yang jauh berbeda dari level domestik.
Hal itu disampaikan Co-Founder, General Counsel & International Business Development AUBL, Isaac Low, saat menghadiri The Nationals Four Basketball Campus League di UPH Basketball Court, Tangerang, Banten, Jumat (12/6).
Menurut Isaac, AUBL merupakan kompetisi yang mempertemukan kampus-kampus terbaik dari berbagai negara Asia-Pasifik. Untuk Conference B, peserta akan berasal dari Indonesia, Australia, Hong Kong, dan Makau.
Seluruh tim merupakan juara dari kompetisi domestik masing-masing dalam enam bulan terakhir. “AUBL adalah panggung besar. Ini akan menjadi pengalaman kompetisi yang benar-benar baru bagi para pemain,” ujar Isaac.
Karena itu, ia menilai aspek mental menjadi persiapan utama yang harus dimiliki wakil Indonesia. Para pemain nantinya akan bermain di bawah sorotan yang lebih besar, dengan pertandingan yang disiarkan ke berbagai negara peserta.
“Kalau saya menjadi pelatih, saya akan memastikan tim siap secara mental. Sebab mereka akan menghadapi banyak sorotan. Pertandingannya tidak hanya disiarkan di Indonesia, tetapi juga di seluruh negara peserta,” katanya.
Selain mental, kondisi fisik juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Menurut Isaac, para pemain harus berada dalam kondisi terbaik karena akan menghadapi lawan-lawan dengan kualitas tinggi dan jadwal pertandingan yang menuntut konsistensi performa.
“Pemain harus memiliki kondisi fisik yang bugar dan tangguh karena mereka akan menjalani pertandingan internasional yang sangat kompetitif,” ujarnya.
Isaac menjelaskan bahwa tantangan terbesar tidak hanya datang dari kualitas lawan, tetapi juga dari kebutuhan beradaptasi dengan berbagai gaya bermain. Tim Indonesia akan menghadapi pendekatan offense, defense, hingga filosofi kepelatihan yang berbeda-beda dari setiap negara peserta.
“Ini lingkungan baru bagi banyak tim. Mereka harus mulai terbiasa menghadapi gaya bermain yang berbeda, melakukan perjalanan lebih banyak, dan menjalani kompetisi yang lebih panjang selama satu musim,” jelasnya.
Terkait biaya partisipasi, Isaac mengatakan pihak AUBL masih akan melakukan pembahasan dan memastikan kembali skema dukungan yang akan diberikan kepada tim peserta.
Hingga saat ini, belum ada keputusan final mengenai pembiayaan perjalanan, akomodasi, maupun kebutuhan kompetisi lainnya. “Untuk hal itu kami akan memastikan kembali dalam beberapa waktu ke depan,” kata Isaac.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kesempatan tampil di AUBL merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi para atlet kampus. Selain mendapatkan jam terbang internasional, mereka juga berkesempatan menghadapi pemain-pemain yang memiliki potensi menuju level profesional.
Isaac mencontohkan AUBL Season One yang mempertemukan wakil Tiongkok dan Taiwan di partai final. Sejumlah pemain dari kedua tim tersebut kini telah berkarier di kompetisi profesional Asia, termasuk di CBA Tiongkok dan B.League Jepang.
“AUBL sangat kompetitif. Banyak pemain yang tampil di sana kemudian masuk ke liga profesional. Ini kesempatan besar bagi para pemain universitas untuk mengukur kemampuan mereka,” ujarnya.
Sebagai informasi, juara kategori putra Basketball Campus League Season 1 akan memperoleh tiket langsung menuju AUBL dan mewakili Indonesia menghadapi kampus-kampus terbaik dari kawasan Asia-Pasifik.
Selain memperebutkan gelar Conference B, tim juara di level tersebut juga otomatis melaju ke kejuaraan utama AUBL yang dijadwalkan berlangsung di Tiongkok pada April 2027.