Bibit Basket Tak Boleh Terkumpul di Sedikit Kampus
Campus League dan Perbasi Jakarta Satu Visi

Basket kampus Indonesia terus berkembang. Semakin banyak perguruan tinggi yang menawarkan beasiswa olahraga, membentuk tim basket yang lebih serius, dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari identitas kampus.
Namun di balik perkembangan tersebut, muncul tantangan baru: bagaimana menjaga agar persaingan tetap kompetitif ketika talenta-talenta terbaik cenderung terkumpul di segelintir universitas.
Isu itulah yang mengemuka dalam jumpa pers antara Campus League dan DPD Perbasi DKI Jakarta di sela penyelenggaraan Basketball Campus League The Nationals 2026.
CEO Campus League Ryan Gozali menilai kompetisi kampus yang sehat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya peserta, tetapi juga oleh pemerataan kualitas antartim.
"Kampus-kampus di Jakarta membutuhkan bantuan untuk mencari bibit-bibit pemain agar tidak semuanya terkumpul di satu atau dua universitas saja," ujar Ryan di Media Center UPH, Tangerang, Banten, Jumat (12/6).
Menurutnya, semakin merata distribusi talenta yang ada, semakin kompetitif pula pertandingan yang tercipta. Pada akhirnya, kondisi tersebut akan menguntungkan proses pembinaan atlet basket secara keseluruhan.
"Kalau kompetisinya semakin kompetitif, pastinya akan menghasilkan atlet-atlet yang lebih baik lagi," lanjutnya.
Ryan menjelaskan bahwa Campus League hadir sebagai kompetisi tertinggi di level mahasiswa. Posisinya berada di ujung jalur pembinaan, menjadi ruang bagi para pemain untuk terus berkembang sebelum melangkah ke level profesional.
"Campus League hadir untuk memberikan ajang kompetisi elit tertinggi di level kampus. Ini merupakan mata rantai terakhir pembinaan sebelum menjadi atlet profesional," katanya.
Karena itu, Campus League terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai pihak dalam ekosistem basket, termasuk Perbasi DKI Jakarta.
Bagi Ryan, pengembangan basket kampus tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara kampus, penyelenggara kompetisi, federasi, hingga komunitas basket agar jalur pembinaan berjalan lebih berkesinambungan.
"Kami akan selalu berusaha membangun komunikasi yang baik. Kami juga ingin menjalankan program-program bersama," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua DPD Perbasi DKI Jakarta Lexyndo Hakim. Menurutnya, semakin banyak kampus yang menawarkan beasiswa olahraga merupakan perkembangan yang positif bagi basket Indonesia.
Namun langkah tersebut perlu diimbangi dengan penyediaan fasilitas olahraga yang memadai.
"Kampus yang memberikan beasiswa olahraga tentu harus memiliki fasilitas olahraga yang mumpuni sehingga ketika menyiapkan atlet basket, semuanya berjalan dengan baik," kata Lexyndo.
Ia menilai pembangunan fasilitas yang baik akan memperjelas jalur pembinaan atlet mahasiswa sekaligus meningkatkan kualitas kompetisi.
Ekosistem Berkelanjutan
Bagi Perbasi DKI Jakarta, pengembangan basket tidak hanya berbicara soal pertandingan atau prestasi jangka pendek. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang mampu melahirkan atlet secara berkelanjutan.
Karena itu, Perbasi DKI menyatakan dukungannya terhadap berbagai inisiatif yang memperkuat basket kampus.
"Perbasi Jakarta selalu mendukung setiap kegiatan basket, baik yang ada di Jakarta maupun sekitarnya, termasuk menciptakan bibit-bibit atlet Jakarta sehingga bisa membantu Indonesia di masa depan," ujar Lexyndo.
Ia juga menyambut positif arah pengembangan Campus League yang ke depan ingin memperkuat identitas kampus, kualitas fasilitas, dan daya saing kompetisi. Menurutnya, proses tersebut harus dilakukan secara bertahap agar fondasi yang dibangun benar-benar kuat.
"Saya rasa semuanya bisa berjalan bertahap. Ketika kampus-kampus mulai membangun fasilitas yang lebih baik, ekosistem yang disiapkan Campus League dan manfaatnya untuk atlet-atlet di Jakarta juga bisa terus berkembang," tuturnya.
Pada akhirnya, tantangan basket kampus Indonesia bukan hanya melahirkan kampus-kampus kuat. Tantangan yang lebih besar adalah menciptakan kompetisi yang kompetitif di setiap level.
Sebab semakin banyak kampus yang mampu bersaing, semakin besar pula peluang lahirnya generasi baru atlet basket Indonesia. (GAP)