Cerita di Balik Anthem Campus League
Pengalaman Baru Eka Gustiwana Membuat Anthem
Ketika nama Eka Gustiwana disebut, yang pertama terlintas di benak biasanya adalah musik elektronik dan karya berbasis vokal. Karena itu, ketika ia mendapat tawaran untuk menggarap anthem Campus League, ini menjadi hal baru sekaligus menjadi tantangan tersendiri.
"Ini karya instrumental, yang selama ini bikin saya penasaran karena saya selalu membuat musik dengan vokal," cerita Eka kepada Campusleague.id. "Tapi kali ini saya dikasih tantangan untuk bikin anthem Campus League, bahkan dalam format orkestra. Jadi bukan electronic music. Ini benar-benar hal yang sangat menyenangkan."
Bagi Eka, proyek ini juga menjadi ruang untuk mengeksplorasi sesuatu yang selama ini ia impikan. Ketertarikannya pada musik orkestra akhirnya menemukan tempatnya.
Dari awal, ada satu hal yang ingin ia pastikan: anthem ini harus terasa milik semua orang. Eka mau anthem menyampaikan rasa kebersamaan dan sportivitas.
"Anthem ini feel-nya anthemic banget. Ketika reff berbunyi, semua orang akan menyanyikannya bersama-sama. Itu yang akan mempersatukan mereka, baik peserta, pemain, maupun aneka latar belakang."
Ia pun membayangkan momen ketika lagu ini diputar di arena. Ada semangat yang tiba-tiba menyala, suara yang menyatu tanpa dikomando. Untuk mencapai momen itu, Eka membuat keputusan yang mungkin terdengar sederhana tapi tidak mudah: melodinya harus sesederhana mungkin.
"Walaupun instrumen orkestra banyak, saya buat melodinya sesederhana mungkin sehingga orang bisa menyanyikannya di mana pun meski tanpa lirik. Mereka bisa humming di rumah, di kamar, di mana pun. Semoga ini bisa jadi kayak lagu kebangsaannya olahraga."
Langsung Berbunyi di Surabaya
Anthem ini tidak menunggu lama untuk menemukan panggungnya. Sejak game pembuka musim di Basketball Regional Surabaya pada April 2026, melodi karya Eka langsung mengisi arena dan mengiringi langkah pertama para student-athlete di kompetisi ini.
Sebuah debut yang dalam banyak hal mencerminkan satu semangat dengan anthem itu sendiri: mulai dari nol, tapi dengan keyakinan penuh.
Pada akhirnya, Eka hanya punya satu harapan sederhana untuk semua yang mendengarnya, baik student-athlete yang turun ke lapangan maupun penonton yang menyaksikan dari tribun.
"Harapan saya, semangat mereka bisa terus membara dan mereka terpacu untuk memberikan yang terbaik," pungkasnya.