Kiat Nisrina Imbangi Kuliah dan Basket
Masuk ITB untuk Bekal Masa Depan
Masih banyak tugas? Bagi Nisrina Gitta Raharja, itu berarti belum waktunya menikmati basket dengan tenang. Pebasket putri Ganesha Institut Teknologi Bandung (ITB) itu punya prinsip sederhana, yakni urusan akademik harus dibereskan dulu sebelum masuk lapangan.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. ITB dikenal sebagai salah satu kampus dengan tuntutan akademik tinggi. Namun di tengah jadwal kuliah dan tugas yang padat, kehidupan student-athlete tetap berjalan.
Mahasiswi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB itu mengakui tugas kampus sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Meski begitu, basket tetap menjadi ruang yang membuatnya bisa melepas penat setelah berkutat dengan perkuliahan.
Ia pun punya cara sendiri agar tetap nyaman saat latihan bersama tim basket kampus.
“Sebenarnya sih banyak tugas juga dan di ITB latihannya sudah terjadwal. Jadi mau tidak mau, sebelum latihan harus komit menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas,” jelas Nisrina.
“Kalau tugas selesai, latihan jadi tenang,” lanjutnya.
Bagi Nisrina, masuk ITB menjadi langkah penting untuk masa depannya. Ia tidak memungkiri bahwa pendidikan dan karier profesional tetap menjadi prioritas utama.
“Aku memang ambil ITB ini juga buat nanti kerjaan di masa depan,” ujar mahasiswi angkatan 2024 tersebut.
Meski begitu, basket bukan sekadar aktivitas sampingan baginya. Ia sudah menyukai basket sejak SMP. Karena itu, bisa tetap bermain basket di level kampus menjadi pengalaman bagi Nisrina.
Menurutnya, memiliki kegiatan di luar akademik penting untuk menjaga semangat selama menjalani kehidupan kuliah yang padat.
“Kalau punya pegangan kegiatan di samping akademik, ditekunin saja. Ada hal yang bisa dikerjakan selain akademik, biar tidak jenuh,” katanya.
Perjalanan Nisrina bersama tim putri ITB memang harus terhenti di ajang Basketball Campus League Season 1 Regional Bandung. Namun, pengalaman tampil di kompetisi tersebut meninggalkan kesan tersendiri baginya.
Atmosfer pertandingan, kualitas kompetisi, hingga cara penyelenggara memperlakukan para pemain membuat Nisrina merasa basket kampus kini mulai bergerak ke level yang lebih serius.
“Ini pertama kali juga kami ikut event yang benar-benar diperlakukan sebagai atlet,” tukasnya. (GAP)