Tantangan Coach Icha Melatih Basket ITB
Niat adalah Yang Terpenting
Melatih tim basket kampus bukan perkara mudah, terlebih di kampus dengan tuntutan akademik tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB). Di tengah jadwal kuliah dan tugas yang padat, tim basket ITB tetap kompetitif di skena basket Bandung, termasuk di Campus League Season 1.
Tantangan itulah yang setiap hari dihadapi Marisa Noviyanti atau yang akrab disapa Coach Icha. Baginya, melatih ITB bukan sekadar soal strategi dan latihan di lapangan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara basket dan akademik para pemainnya.
“Udah pasti tantangannya akademik. Kalau tim lain bisa latihan seminggu lima kali, kami seminggu dua kali aja sudah alhamdulillah banget,” ujar Coach Icha.
Situasi itu membuat ITB harus menjalani proses yang berbeda dibanding tim kampus lain. Menurutnya, pemain-pemain ITB tidak hanya dituntut tampil baik di lapangan, tetapi juga dalam soal akademik.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan tim pelatih pun berbeda. ITB tidak bisa memaksakan pemain untuk terus berlatih keras tanpa melihat kondisi akademik dan fisik mereka.
“Kadang pemain maunya tetap main terus. Tapi dari awal saya sudah bilang, kami nggak bisa nge-push mereka terlalu jauh karena mereka juga punya tanggung jawab akademik,” lanjutnya.
Meski begitu, Coach Icha tetap bangga dengan komitmen para pemain ITB. Menurutnya, mahasiswa ITB yang tetap memilih bertahan di basket adalah mereka yang benar-benar punya niat besar untuk berkembang di dua dunia sekaligus.
“Kalau buat masuk tim basket ITB itu yang paling penting niat. Karena banyak atlet bagus, tapi saat masuk ITB mereka juga harus fokus akademik,” jelasnya.
Buka Jalur Prestasi
ITB merupakan kampus berbasis akademik yang berkualitas, bahkan di tahun pertama perkuliahan mahasiswa harus menghadapi sistem evaluasi yang ketat.
Musim ini juga menjadi periode penting bagi basket ITB. Kampus tersebut baru membuka jalur prestasi olahraga mulai tahun akademik 2026. Kehadiran jalur tersebut diharapkan bisa membantu perkembangan olahraga kampus, termasuk basket.
Meski demikian, Coach Icha menegaskan bahwa target timnya tetap realistis. Ia menyadari ITB masih dalam proses berkembang dan harus berjalan setahap demi setahap.
“Kami ini tim yang baru naik level. Sedangkan banyak tim lain pemainnya sudah punya level di atas kami. Jadi kami memang harus step by step,” katanya.
Keikutsertaan di Basketball Campus League pun menjadi pengalaman penting bagi tim basket ITB. Coach Icha menyebut para pemain sangat antusias bisa tampil di kompetisi dengan atmosfer besar seperti Campus League.
“Anak-anak bilang event ini wah banget dan keren banget buat mereka,” ucapnya.
Namun di balik antusiasme tersebut, ITB tetap memilih fokus pada proses dibanding hasil akhir. Coach Icha tidak ingin timnya terbebani target berlebihan dan lebih memilih melihat perkembangan pemain dari pertandingan ke pertandingan.
“Dari awal kami memang tidak target juara. Yang penting kasih yang terbaik buat tim ini, karena kami sadar semuanya harus step by step,” tutup Coach Icha. (GAP)