Unpar ''Belajar'' di The Nationals
Cari Wawasan Basket Level Nasional

Bagi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) putri, Basketball Campus League The Nationals musim ini bukan hanya soal hasil pertandingan. Kompetisi ini menjadi kesempatan berharga bagi Alligators untuk menambah pengalaman sekaligus membuka wawasan dengan menghadapi tim-tim basket kampus terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Kenapa membuka wawasan? Menurut pelatih Unpar putri, Arifin, tampil di level nasional merupakan pengalaman yang sudah lama dinantikan timnya. Berstatus sebagai runner-up Regional Bandung, Unpar akhirnya berhasil menembus The Nationals dan mendapatkan kesempatan untuk mengukur kemampuan melawan program-program basket kampus yang selama ini dikenal memiliki tradisi kuat.
Pada laga perdana, hasil memang belum berpihak kepada Unpar. Alligators harus mengakui keunggulan Soegijapranata Catholic University (SCU) dengan skor 27-92. Sedangkan di game kedua, Selasa (9/6), Unpar menyerah 37-92 kepada Universitas Bina Nusantara.
Namun, pertandingan tersebut sekaligus menjadi pengalaman berharga karena mereka berhadapan dengan salah satu kandidat juara yang diperkuat dua pemain tim nasional, Erinindita Prias dan Diva Intan.
Masih menurut Arifin, sejak awal timnya sudah memahami bahwa mereka berada di grup yang sangat kompetitif. Kehadiran tim-tim kuat seperti SCU, tuan rumah Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Universitas Bina Nusantara (Binus) membuat tiap pertandingan menjadi tantangan bagi para pemain muda Unpar.
“Sebenarnya kalau dilihat, lawannya memang bagus. Mereka unggul secara fisik, tinggi badan, dan ukuran pemain. Di kuarter pertama kami banyak kemasukan poin dari area dalam. Mereka sudah siap dan memang kualitasnya bagus,” ujar Arifin.
Ia juga menyoroti perbedaan pengalaman yang cukup terasa di lapangan. Mayoritas pemain inti Unpar masih berada di tahun pertama dan tahun kedua kuliah. Sementara lawan yang mereka hadapi memiliki kedalaman skuad yang lebih matang dan jam terbang yang lebih tinggi.
“Anak-anak kami sebagian besar masih semester awal. Ada yang baru tahun pertama, ada yang tahun kedua. Jadi memang harus diakui kalah pengalaman dan kalah jam terbang. Mereka juga punya kedalaman tim yang luar biasa. Saat mereka mengganti pemain, kualitasnya tidak jauh berbeda,” lanjutnya.
Meski demikian, Arifin tetap bangga dengan perjuangan yang ditunjukkan para pemainnya sepanjang musim. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju final Regional Bandung tidak didapat secara cuma-cuma, melainkan melalui perjuangan menghadapi tim-tim jago basket kampus lainnya di "Bumi Priangan".
“Saya selalu bilang ke mereka, sampai ke final Bandung itu bukan hadiah. Mereka mendapatkannya dengan kerja keras. Semua yang diraih musim ini adalah hasil dari perjuangan mereka sendiri,” katanya.
Justru karena itulah Arifin menilai pengalaman tampil di The Nationals menjadi modal yang sangat penting untuk perkembangan tim dalam beberapa tahun ke depan. Dengan mayoritas roster masih berusia muda, kesempatan menghadapi lawan-lawan kuat diyakini akan mempercepat proses perkembangan para pemain.
“Buat saya ini bagus. Anak-anak bisa mendapatkan pengalaman yang membuka wawasan, jadi tidak hanya di Bandung saja. Mereka bisa melihat langsung seperti apa level tim-tim terbaik di Indonesia. Dengan usia mereka yang masih muda, pengalaman seperti ini akan sangat berguna ke depannya,” ujar Arifin.
Pelatih yang akrab mendampingi perkembangan basket kampus di Bandung itu juga memberikan apresiasi kepada penyelenggaraan Campus League. Menurutnya, kompetisi ini memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh peserta untuk bersaing.
“Saya senang dengan adanya Campus League. Sistemnya menggunakan waktu bersih. Semua berjalan dengan baik dan fair. Menurut saya ini kompetisi yang bagus untuk basket kampus,” ungkapnya.
Arifin menegaskan bahwa hasil yang belum maksimal bukan alasan untuk mengubah sistem kompetisi yang sudah berjalan baik. Sebaliknya, ia melihat The Nationals sebagai kompetisi yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para pemainnya.
“Memang tim kami belum sekuat tim-tim lain yang ada di sini (The Nationals). Tapi itu bukan alasan. Justru kami harus belajar dan berkembang dari pengalaman ini,” lanjutnya.
“Anak-anak jadi tahu standar permainan di level nasional seperti apa. Mereka merasakan langsung tekanan, fisik, dan kualitas permainan yang berbeda. Itu yang menurut saya penting untuk perkembangan mereka,” kata Arifin.
Hal senada juga disampaikan pemain Unpar, Davina Azzahra Tumena. Bagi Davina, tampil di The Nationals menjadi pengalaman yang sangat berharga karena memberinya kesempatan bertemu dan berhadapan langsung dengan tim-tim terbaik dari berbagai daerah.
“Ini pertama kali kami bermain di The Nationals. Teman-teman ingin mencari pengalaman dan bertemu tim-tim yang hebat. Pengalaman seperti ini pasti sangat berharga untuk perkembangan kami ke depan,” ujar Davina yang juga putri eks pemain timnas sepak bola Indonesia, Yeyen Tumena.
Meski perjalanan mereka di The Nationals tidak mudah, skuad Unpar putri mendapat "kelas belajar" yang jauh lebih besar dari sekadar hasil akhir di papan skor. Mereka membawa pengalaman dan gambaran tentang level kompetisi basket kampus nasional.
Bagi tim muda seperti Unpar, pengalaman itu bisa menjadi investasi untuk masa depan. Dan dari The Nationals musim ini, Alligators mendapatkan kesempatan berharga untuk membuka wawasan sekaligus mempersiapkan diri menjadi lebih kompetitif pada musim-musim mendatang. (GAP)