Universitas Cenderawasih
Kota Jayapura
Usai Duel Sengit, Dua Pelatih Saling Respek
Panas di Lapangan, Adem di Pinggir Lapangan

Ada yang berbeda dari duel panas antara Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Ciputra Surabaya (UCS) di GOR Basket Unesa, Minggu (26/4). Laga yang berjalan keras, ketat, dan penuh emosi itu justru ditutup dengan saling respek dari dua pelatih di pinggir lapangan.
Di tengah tensi tinggi yang bahkan berujung overtime, kedua tim tampil tanpa kompromi. Uncen akhirnya keluar sebagai pemenang lewat tripoin dramatis di detik akhir, namun cerita tak berhenti di papan skor.
Pelatih Uncen, Alfa Hari Kusumanegara, justru membuka komentarnya dengan nada apresiatif terhadap lawan yang menurutnya tampil sangat solid dan menyulitkan.
"Ciputra bermain bagus, mereka punya antisipasi sangat efektif. Tapi saya ubah sedikit cara main dan kami bisa leluasa eksploitasi dari sisi strong side ke wing side, dan itu berhasil."
Bagi Alfa, kemenangan timnya bukan hanya soal eksekusi di akhir laga, tetapi juga tentang bagaimana mereka mampu bertahan dari tekanan yang terus diberikan sepanjang pertandingan.
"Kami sama-sama keras. Uncen belajar cara main keras dari Surabaya, dan kami belajar bagaimana cara menghadapi permainan keras. Biasanya anak-anak Papua dikasih keras agak mundur, ini kami nggak boleh kasih mundur dan sama-sama keras, kami menang."
Di sisi lain, pelatih Ciputra, Risto Gerol Foekh, menunjukkan sikap serupa. Alih-alih menyoroti kekalahan, ia lebih memilih memberi kredit kepada Uncen yang dinilainya tampil lebih efektif di momen krusial.
"Uncen bermain baik dan bisa melewati kami. Ya mereka menang."
Namun bagi Risto, ada hal yang lebih penting dari sekadar hasil akhir. Ia melihat perjuangan anak asuhnya sebagai nilai utama dari pertandingan ini.
"Anak-anak sudah berusaha sangat keras dan main bagus. Yang saya lihat bukan basketnya tapi effort mereka. Perjuangan mereka sangat keras, dari ketinggalan jauh, mengejar lalu unggul, saling kejar mengejar."
Risto pun tak ragu menyebut laga ini sebagai bagian dari kerasnya persaingan di grup yang ia anggap sebagai “grup maut”. "Ini grup maut, dan menurut saya ini hasil yang maksimal untuk kami. Saya puas, tapi ada beberapa kondisi yang harus kami perbaiki dan evaluasi."
Meski masih menyisakan satu laga antara Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan Universitas Airlangga (Unair), “grup neraka” ini pada akhirnya sudah dikunci oleh Uncen. Tim asal Tanah Papua itu memastikan langkah ke fase berikutnya dan akan menantang jawara Grup C di Regional Playoffs, Selasa (28/4/2026).
Pertandingan ini memang seperti cerminan dua tim dengan karakter kuat. Saling menekan, saling membalas, tanpa ada yang benar-benar mendominasi hingga detik terakhir.
Menariknya, di balik panasnya persaingan, kedua pelatih justru sepakat dalam satu hal: kualitas permainan lawan patut dihargai.
Pertandingan Terdekat
Lihat JadwalBelum ada jadwal pertandingan tersedia
Berita Lainnya
Lihat Berita Lainnya
Uncen Buktikan Size Doesn't Matter
Anak-anak Jayapura Tunjukkan Mental Bertanding
Grup B: Uncen Raih Kemenangan Perdana
Kalahkan Maranatha dengan Skor 81-69

Uncen Bangun Fondasi Basket Papua di The Nationals
Simpan Optimisme Kuat untuk Masa Depan

Uncen Having Fun di The Nationals 2026
Takjub Bertemu Perbanas
.webp&w=256&q=75)